Siapa tidak kenal pasukan baret merah. Pasukan yang pekan ini
berusia 60 tahun dan akan memasuki usia 61 itu telah mencatatkan diri sebagai satu “kelompok” elit dalam
militer di Indonesia. Berbagai catatan prestasi mereka tunjukkan, di antaranya
tugas-tugas kemiliteran yang termasuk berat dan prestisius. Catat saja keberhasilan mereka dalam penumpasan DI/TII,
Operasi Talang Betutu untuk mengikis pemberontakan di TT IV, Operasi Pakanbaru
yang menggagalkan gerak Armada VII AS, Operasi Penghancuran PRRI/Permesta,
Kahar Muzakkar, Operasi Trikora, Operasi Dwikora, penumpasan pengkhianatan
G30S/PKI, Operasi Naga dan Pepera di Irian Barat, Operasi Seroja di Timtim,
operasi pembebasan sandera di Bandara Don Muang-Thailand, Operasi GPK di Aceh,
operasi pembebasan sandera di Mapenduma, serta berbagai operasi militer lainnya.
Tampaknya pasukan ini memang dirancang khusus untuk
tugas-tugas demikian. Pembentukannya sendiri, pada tanggal 16 April 1952, di
bawah komando divisi Siliwangi, dilakukan untuk persiapan menghadapi operasi
DI/TII di Jawa Barat.
Ide tersebut muncul setelah pejabat Indonesia melihat betapa
efektifnya pasukan komando dari Gerakan Kemerdekaan Maluku Selatan (RMS) selama
pemberontakan itu pecah di Maluku pada tahun 1950.Sehingga Kolonel Alex Evert
Kawilarang, Panglima Tentara Terium (TT) III Siliwangi, punya ide membentuk
pasukan “elit” itu. Namanya ketika itu Kesatuan Komando Tentara Teritorium
(Kesko TT) III dibawah Panglima TT III Siliwangi.
Komandannya adalah Mochammad Idjon Djanbi, mantan kapten KNIL
yang disersi yang bernama asli Kapten Rokus Bernardus Visser. Kemudian tanggal
9 Februari 1953, Kesko TT dialihkan dari Siliwangi dan langsung berada di bawah
KSAD.
Setelah membuktikan “kegesitannya” dalam berbagai operasi,
pada 18 Maret 1953 Mabes ABRI mengambil alih komando Siliwangi dan kemudian
mengubah namanya menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD). Tanggal 25 Juli
1955 organisasi KKAD ditingkatkan menjadi Resiman Pasukan Komando Angkatan
Darat (RPKAD), yang tetap dipimpin oleh Mochammad Idjon Djanbi.
Tahun 1955, KKAD ditingkatkan menjadi Resimen Pasukan Komando
Angkatan Darat (RPKAD). Kemudian tahun 1959 unsur-unsur tempur dipindahkan ke
Cijantung, di selatan Jakarta. Dan pada tahun 1959 itu pula Kepanjangan RPKAD
diubah menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat. Saat itu organisasi militer
itu telah dipimpin oleh Mayor Kaharuddin Nasution. Sepak terjang pasukan ini
memang cukup rawan bahaya. Komandan pertama, Idjon Djanbi, terluka dalam
operasi DI/TII, dan digantikan Mayor RE Djailani. Dan kemudian, Djailani
diganti oleh Kaharuddin Nasution.
Pada tanggal 12 Desember 1966, RPAD berubah pula menjadi
Pusat Pasukan Khusus AD (Puspassus AD). Ternyata nama Puspassus AD bertahan
selama lima tahun. Tanggal 17 Februari 1971 resimen tersebut kemudian diberi
nama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha).
Akhirnya, akibat adanya reorganisasi di tubuh ABRI, sejak
tanggal 26 Desember 1986, Kopassandha ini menjadi Komando Pasukan Khusus yang
lebih terkenal dengan nama Kopassus.
ABRI selanjutnya melakukan penataan kembali terhadap grup di
kesatuan Kopassus. Sehingga wadah kesatuan dan pendidikan digabungkan menjadi
Grup 1, Grup 2, Grup 3/Pusdik Pasuss, serta Detasemen 81.
Hingga saat ini Kopassus telah dipimpin oleh 15 orang
komandan. Komandan pertama, kedua, dan ketiga, seperti telah disebutkan diatas,
yakni masing-masing Mayor MI Djanbi, Mayor RE Djailani, Mayor Kaharuddin Nasution.
Kemudian berturut-turut organisasi ini dikomandani oleh Mayor Mung (1958-1964)
sebagai komandan keempat, Kolonel Inf. Sarwo Edhie Wibowo (1964-1967) sebagai
komandan kelima, Brigjen TNI Widjoyo Suyono sebagai komandan keenam, Brigjen
Witarmin komandan ketujuh, Kolonel Inf. Yogie SM dipercayakan menjadi komandan
kedelapan, yakni tahun 1975-1983. Lalu komandan ke-9 adalah Kolonel Inf.
Wismoyo Arismunandar (1983-1985), komandan kesepuluh dijabat oleh Kolonel Inf
Sintong Panjaitan (1985-1987). Komandan kesebelas Brigjen TNI, Kuntara
(1988-1992), disusul oleh Brigjen TNI Tarub yang menjabat komandan Kopassus
keduabelas (1992-1993). Setelah itu muncul Brigjen TNI Agum Gumelar sebagai
komandan ketiga belas (1994-1995). Yang ke-empat belas adalah Brigjen Subagyo
HS (kini Pangdam Diponegoro dengan pangkat mayor jenderal). Terakhir sampai
saat ini, Kopassus dikomandani oleh Mayjen TNI Prabowo Subianto yang diangkat
sejak 17 Nopember 1995, sebagai orang kelima belas memimpin pasukan itu.
Dan mulai tanggal 25 Juni 1996 Kopasuss ini mengalami
reorganisasi dan dikembangkan menjadi lima Grup.
Grup 1 Parakomando dipimpin oleh Kolonel Inf Syaiful Rizal
yang lokasinya di Serang Jawa Barat.
Grup 2 Parakomando di Kartasura Jawa Tengah yang dipimpin
oleh Kolonel Slamat Sidabutar.
Grup 3 Pusdik Passus di Batujajar Jawa Barat yang dipimpin
oleh Kolonel Inf Suhartono Suratman.
Grup 4 Sandhi Yudha di Cijantung dipimpin oleh Kolonel Inf
Zamroni.
Detasemen 81, unit anti teroris Kopassus, ditiadakan dan
diintegrasikan ke grup-grup tadi.
Melihat kiprahnya, tentu tidak berlebihan kalau pasukan ini
menjadi pasukan “sangat” elit di ABRI. Untuk mendukung itu berbagai upaya
dilakukan, misalnya dengan evaluasi terus-menerus terhadap format
organisasinya. Maka itu tidak heran kalau pasukan ini telah mengalami
berkali-kali reorganisasi penting. Diantaranya seperti yang terjadi ketika
RPKAD diganti menjadi Kopassandha pada tahun 1971 yang sekaligus menyebabkan
organisasi itu diperluas dan diorganisir ulang menjadi empat kelompok.
Kelompok I dan III adalah formasi para komando yang terdiri
dari unit berukuran batalion. Sedangkan Kelompok II dan IV merupakan unit-unit
perang samaran dari kekuatan batalion. Detasemen 81, unit anti teroris, dengan
350 personel, ditambahkan pada tahun 1979.
Operasi utama yang dilakukan pertama waktu itu adalah melawan
pembajakan pesawat Woyla dari penerbangan domestik ke Bangkok tahun 1981, yang
menyebabkan semua pembajak, kecuali satu, tewas bersamaan dengan salah seorang
dari pihak ABRI. Angkatan khusus pada skala ini.
membuktikan beban yang terlalu
berat pada anggaran pertahanan dan besar angkatan dibagi dua pada tahun 1986
menjadi 3.500 orang.
Catat lagi misalnya pada tahun 1962, setelah kampanye
PRRI/Permesta. Pasukan ini dipakai bersama dengan unit-unit lain dari seluruh
kedinasan, untuk menginfiltrasi Irian Jaya guna mendukung kampanye pembebasan.
Sejak itu mereka disebarkan, secara teratur terutama pada akhir 1983 dan 1984
sewaktu operasi utama terakhir dilancarkan OPM (Organisasi Papua Merdeka).
Angkatan khusus ini juga berperan penting dalam operasi
melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sejak tahun 1976-1978, dan sekali lagi pada
akhir 1980-an sewaktu gerakan itu berkobar lagi. Pada tanggal 17 Desember 1992
mereka menembak mati komandan pengawal dari pemimpin politik senior GAM dan
seorang pengikutnya.
Dalam operasi di Timor Timur pasukan ini memainkan peran
sejak awal. Mereka melakukan operasi khusus guna mendorong integrasi Timtim
dengan Indonesia.Secara bawah tanah merekrut, melatih, mempersenjatai, dan
memimpin kekuatan anti-Fretilin dalam Operasi Komodo. Dan ketika Timor Timur
diinvasi pada tanggal 7 Desember 1975, angkatan khusus ini merupakan angkatan
utama yang pertama ke Dili.
Mereka ditugaskan untuk mengamankan lapangan udara. Sementara
Angkatan Laut dan Angkatan Udara mengamankan kota. Mereka memainkan peran yang
berlanjut sejak itu, dan membentuk sebagian dari kekuatan udara yang mobil
untuk memburu Fretilin Lobato pada Desember 1978. Kemudian pada tahun 1992
menangkap penerus Lobato, Xanana Gusmao, yang bersembunyi di Dili bersama
pendukungnya.
Kopassus, menurut Robert Lowry yang menulis buku The Armed
Forces of Indonesia, pada tahun 1986, ditaksir mempunya kekuatan sekitar 3500
personil. Jumlah itu agaknya masih akan dikembangkan lagi. Kabarnya, perhatian
utama Kopassus sekarang ini tercurah untuk tiga daerah dengan masalah keamanan
yang masih “berat” yaitu Timor Timur, Aceh, dan Irian Jaya.
Thanks for visite me blog
0 komentar:
Posting Komentar